Perubahan STAIN menjadi UIN merupakan komitmen besar untuk
terwujudnya penyatuan antara ilmu dengan agama yang selama ini menjadi
perdebatan yang dikotomik dalam dimensi
pengetahuan. Catatan sejarah pada abad ke-16 di belahan bumi Eropa memunculkan pesimistis
untuk terealisasikannya komitmen besar tersebut. Salah sati tokoh abad itu,
Galileo Galilei telah meruntuhkan doktrin gereja yang menyatakan teori geosentris dengan teori
heliosentrisnya. Teori Heliosentris dipakai oleh masyarakat karena didukung
bukti yang kuat dan tidak terbantahkan. Sejak saat itu masyarakat Eropa
memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama atau disebut sekulerisasi.
Pada abad XV H atau tahun 1970-an diproklamasikan Islamisasi Ilmu
oleh Ismail al-Faruqi dan Sayed Muhammad Naquib al-Attas. Gerakan yang
dimotivasi oleh agama ini mencoba melakukan kritik terhadap ilmu pengetahuan
modern. UIN Maulana Malik Ibrahim mencoba melakukan islamisasi ilmu dengan
membuat model-model integrasi keilmuan dengan Islam. Ilmuwan UIN Maulana Malik
Ibrahim merumuskan beberapa metode.
Mantan Pembantu Rektor I Muhaimin mengatakan “Tidak usah kita memaksakan
agama ke dalam ilmu pengetahuan , yang penting internalisasi nilai-nilai
Islam saja yang kita masukkan dalam setiap kompetensi mata pelajaran”. Imam
Suprayogo membuat pohon ilmu yang berlandaskan al-Quran dan al-Hadits serta
menyatakan “Meskipun gerakan kita masih sebatas labelisasi ayat-ayat
al-Quran itu sudah cukup bagus mengingat pahala bagi orang yang mengkaji
al-Quran itu berlipat ganda daripada tidak menyentuh sama sekali al-Quran.
Prof. Kasiram merumuskan “Untuk bisa mengintegrasikan ilmu dan agama, maka yang
harus dilakukan adalah menjadikan al-Quran sebagai deduksi tertinggi,
artinya dari al-Quran kita harus membuat proposisi kemudian ditarik sebuah
hipotesis untuk ditindaklanjuti dengan penelitian empiris, sampai kita
menemukan kebenaran yang ada di al-Quran dan sampai mahasiswa tersebut menyebut
asma Allah karena dia telah membuktikan kebesarsan Allah .”
Jika ilmu pengetahuan bersifat terbuka dan dapat di kritik, dan
ilmu pengetahuan dari al-Quran dibantah oleh teori yang lebih kuat, bukan
al-quran yang disalahkan tapi metode atau penafsiran kita yang salah dengan
obyek kajian tersebut. Ilmu pengetahuan diklasifikasikan menjadi ilmu alam, ilmu
sosial, dan ilmu humanoria. Ilmu-ilmu tersebut merupakan ilmu murni dan terbagi
lagi menjadi ilmu terapan. Masing-masing ilmu pengetahuan tersebut memiliki
metode penelitian dan konsep yang berbeda.
Orang Islam akan memperoleh pengetahuan puncak dengan membaca tanda-tanda
kekuasaan Allah kemudian menganalisa dengan pikiran jernih, setelah itu
dia harus mengajarkan apa yang dia dapatkan dan juga mengamalkannya.
Jika dia telah mampu mengajarkan ilmu dengan istiqomah maka dia akan
mendapatkan pengetahuan hikmah. Pengetahuan inilah yang mempunyai derajat
paling tinggi, dan kemudian Allah memberikannya pengetahuan yang tidak
diajarkan kepada manusia.

0 Response to "UIN Menyatukan Sains dan Agama"
Posting Komentar
komentar anda sangat berharga bagi kami